fbpx

Evra Dapat Ancaman Pembunuhan Setelah Berselisih Dengan Suarez

Berita Bola – Mantan Bek Manchester United, Patrice Evra mengaku mendapatkan ancaman pembunuhan setelah ia berselisih dengan Mantan penyerang Liverpool, Luiz Suarez. Pada tahun 2011 lalu, Evra sempat berseteru dengan Suarez karena sang bek Manchester United itu menuding Suarez mengucapkan kata rasis kepada dirinya.

Suarez kemudian mengakui bahwa ia memang mengucapkan kata yang dianggap mantan pemain MU tersebut rasis. Namun ia menegaskan bahwa saat itu konteks kata yang ia ucapkan sama sekali tidak bernada rasis.

Hingga akhirnya ia pun dihukum oleh pihak FA dengan larangan bermain pada delapan laga dan denda sekitar 40 ribu pounds. Karena kejadian tersebut, Suarez tampak menyimpan dendam. Oleh karena itu pada saat laga berikutnya mereka bertemu, Suarez tak ingin berjabat tangan sebelum laga dimulai.

Ancaman

Akibat kejadian perselisihan tersebut, Evra dan keluarganya mendapatkan teror dari orang tak dikenal dengan menerima banyak surat ancaman kematian untuk mereka.

“Saya menerima banyak surat kematian,” katanya kepada¬†Daily Mail. “Selama berbulan-bulan, saya memiliki mobil keamanan yang diparkir di luar rumah saya di Alderley Edge 24 jam sehari,” terangnya.

“Itu tidak mudah bagi keluarga saya, tetapi saya dibesarkan di jalanan yang sulit di Les Ulis, jadi bagi saya itu seperti sesuatu yang normal,” koarnya. “Tapi mungkin bagi orang lain, itu gila. Bahkan kakak saya berkata: ‘Hati-hati’ ketika kita keluar di mobil,” tutur Evra.

[Baca Juga: Gara-gara Mourinho, David Luiz Dipaksa Pergi dari Chelsea]

Italia dan Inggris Sama-Sama Rasis

Selain ia pernah bermain bersama Manchester United di Premier League, ia juga pernah bermain untuk Juventus di Serie A. menurutnya ada kesamaan dari para fans di berbeda kompetisi ini. Kesamaan tersebut yaitu mereka sama rasisnya walaupun berbeda kompetisi. Dan menurutnya juga masalah itu tak bisa diselesaikan oleh usaha para pemain saja.

“Saya suka Inggris. Saya sudah bertahun-tahun tinggal di Inggris. Anda tidak bisa menyebut orang-orang di Inggris rasis. Italia juga sama,” cetusnya.

“Tapi ketika mereka datang di stadion, mereka mulai menjadi seperti binatang, bertingkah seperti binatang. Saat itulah mereka mulai menggunakan segalanya untukmu agar anda menjalani laga yang buruk. Haruskah saya memanggil mereka rasis untuk itu? Saya tidak tahu. Ada berbagai cara untuk melukai pemain, tetapi saya tidak tahu mengapa Anda harus berbicara tentang asal atau warnanya,” keluhnya.

“Saya tidak berpikir itu harus menjadi tanggung jawab para pemain untuk melawannya. Ini adalah [tanggung jawab] liga. Jika liga terus menerimanya, suatu hari sesuatu yang buruk akan terjadi. Jawabannya bukan kampanye resmi seperti Say No to Racism. Saya tidak ingin mengenakan kemeja Say No to Racism. Mereka meminta saya untuk melakukan kampanye itu tetapi saya tidak akan melakukannya karena itu palsu. Para pemain tidak bahkan tahu tentang apa itu,” kritik Evra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *